MATERI IDEOLOGI LAKMUD (ASWAJA II, KENUAN II, DAN IPNU-IPPNU II)

 TUGAS MANDIRI 

SYARAT MENGIKUTI LATIN & LATPEL 

Nama : Rizki Faozi 

Delegasi : Cimanggu 

Materi : Ideologi Lakmud (Aswaja II, Kenuan II, IPNU-IPPNU II) 

Hari, Tanggal : Selasa, 15 Desember 2020 

BELAJAR, BERJUANG, BERTAQWA



MATERI IDEOLOGI LAKMUD 

A. KE-ASWAJAAN II 

    Ahlusunnah sesungguhnya identik dengan pernyataan nabi SAW “ Ma Ana „alaihi Wa Ashabi “ seperti yang dijelaskan sendirioleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud yang artinya “Bani Israil akan terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akn terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk neraka kecuali satu golongan”. Kemudian sahabat bertanya; “siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”, lalu Rasulullah Saw menjawab : “Mereka itu adalah Maa Ana ‘Alaihi Wa Ashabi” yaitu mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga oleh para sahabatku. 

Dalam arti lain Maa Ana ‘Alaihi Wa Ashabi disebut juga Ahlusunnah Wal Jamaah. Secara etimologi Ahlusunnah Wal Jamaah dibagi menjadi 3 Bagian yaitu : 

a. Ahlun artinya kelompok, golongan, keluarga 

b. Sunnah artinya yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad saw 

c. Al Jamaah artinya sekumpulan orang atau kelompok mayoritas.

    Sedangkan secara terminology, Ahlussunah Wal Jamaah adalah suatu golongan ajaran islam yang sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. 

    Dari Pengertian diatas maka Ahlussunnah Wal Jamaah sesungguhnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Jadi bukan sebuah gerakan yang baru muncul diakhir abad ke-3 dan ke-4 H yang dikaitkan dengan lahirnya konsep aqidah Aswaja yang direkonstruksikan oleh Imam Abu Hasan Al-sy‟ari (W; 935 M) dan Imam Manshur AlMaturidi (W; 944 M) pada saat munculnya berbagai golongan yang pemahamannya di bidang Aqidah sudah tidak mengikuti Manhaj atau Thoriqoh yang dilakukan oleh para sahabat dan banyak yang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. Dalam perkembangannya NU merupakan ormas Islam pertama di Indonesia yang menegaskan diri berfaham Ahlusunnah Wal Jamaah. Dalam qanun Asasi (Konstitusi Dasar) yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‟ari juga tidak disebutkan definisi Swaja. Namun didalamnya bahwa Ahlusunnah Wal Jamaah merupakan sebuah paham keagamaan dimana dalam bidang akidah menganut pendapat Abu Hasan AlAsy’ari dan Al-Maturidi sedangkan dalam bidang fiqh menganut dari salah satu 1 Qibtiyah Kiki, Supratiwi Dwi ; 2012; Pedoman Pengkaderan:PP IPPNU;Jakarta Madzhab Empat (Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’I dan Imam Hambali) dan Bidang Tasawuf/Akhlak menganut Imam Junaidi Al-Baghdadi dan Abu Hamid AlGhazali. 

B. KENUAN II 

1. Mabadi‟ Khaira Ummah 

    Mabadi Khaira Ummah merupakan langkah awal pembentukan umat terbaik. Gerakan Mabadi Khaira Ummah merupakan langkah awal pembentukan “umat terbaik” (khaira ummah) yaitu suatu umat yang mampu melaksanakan tugas-tugas amar ma‟ruf nahi mungkar yang merupakan bagian terpenting dari kiprah Nu Karena kedua sendi mutlak yang diperlukan untuk menopang terwujudnya tata kehidupan yang diridhai Allah SWT. Sesuai dengan cita-cita Nu. Amar ma’ruf adalah mengajak dan mendorong perbuatan baik yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi, sedangkan Nahi mungkar adalah menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak dan merendahkan nilai-nilai kehidupan dan hanya dengan dua sendi tersebut kebahagiaan lahiriah dan bathiniyah dapat tercapai.

    Terdapat tiga Prinsip dasar dan dua prinsip Mabadi Khaira Ummah tambahan untuk mengantisipasi persoalan kontemporer yaitu sebagai berikut : 

a. Ash-Shidqu (kejujuran) 

b. Al Amanah Wal wafa Bil ahdi (dapat dipercaya, setia dan tepat janji) 

c. Al-adalah (bersikap dan bertindak adil dalam segala hal) 

d. Atta‟awun (tolong menolong) 

e. Al-istiqomah (keteguhan, konsisten) 

2. Khittah NU 

    NU menjadi gerakan keagamaan yang bertujuan ikut membangun insan dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tentram, adil, dan sejahtera. NU bergerak mewujudkan cita-cita dan tujuannya melalui serangkaian ikhtiar yang didasari oleh dasar-dasar faham keagamaan yang membentuk kepribadian khas NU.Inilah yang kemudian disebut sebagai Khittah Nahdlatul Ulama. Khittah NU adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan. Landasan tersebut adalah faham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia, meliputi dasar-dasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan. NU berdasarkan faham keagamaan kepada sumber ajaran Islam yaitu Al Quran dan al Hadits serta al Ijma’ dan al Qiyas. 

    Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya tersebut, NU mengikuti faham Ahlussunnah wal Jamaah dengan menggunakan jalan pendekatan (al-madzab) dengan rincian: 

a. Di bidang aqidah, NU mengikuti Ahlussunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abul Hasan al-Asy‟ari dan Iman Abu Mansur al-Maturidi. 

b. Di bidang fiqih, NU mengikuti jalan pendekatan (al-madzab) dari Muhammad bin Idris as-Syafi‟i. 

c. Di bidang tasawuf, NU mengikuti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam alGhazali. 

    Dasar-dasar pendirian faham keagamaan NU tersebut menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan pada: 

a. Sikap tawasuth dan i‟tidal 

b. Sikap tasamuh 

c. Sikap tawazun 

d. Amar ma‟ruf dan nahi munkar 

    Sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidipan bersama. NU dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim). Sikap seimbang dan berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta lingkungan hidupya, menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. NU selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan. 

3. Islam Nusantara 

a. Konsep Dasar Islam Nusantara 

    Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui pertimbangan budaya atau tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara (tetapi kajian ini dibatasi pada Indonesia), sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis. Identitas ini ketika disosialisasikan di kalangan umat Islam, khususnya para pemikirnya direspons dengan tanggapan yang kontroversial: ada yang menolak identitas Islam Nusantara itu karena Islam itu hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan oleh Nabi. 

    Sebaliknya, banyak pemikir Islam yang menerima identitas Islam Nusantara itu. Bagi mereka, Islam hanya satu itu benar secara substantif, tetapi ekpresinya beragam sekali, termasuk Islam Nusantara. Islam ini ditampilkan (dipikirkan, dipahami dan diamalkan) melalui pendekatan kultural. Hasilnya melahirkan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang ramah, moderat, inklusif, toleran, cinta damai, harmonis, dan menghargai keberagaman. Keberagamaan Islam demikian ini terjadi lantaran perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal, khususnya Jawa, yang biasa disebut akulturasi budaya. Islam Indonesia patut menjadi contoh cara berislam yang demikian. Model Islam yang serba menyejukkan ini perlu dipublikasikan secara internasional dan diharapkan mampu menggugurkan persepsi dunia bahwa Islam itu penuh kekerasan. 

    Ada beberapa definisi tentang Islam Nusantara yang dikemukakan oleh pemikir-pemikir Islam, antara lain: “Islam Nusantara ialah paham dan praktek keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat.” (Muhajir dalam Sahal & Aziz, 2015: 67). Pemaknaan senada, “Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, adat istiadat di tanah air” (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015: 239). 

    Definisi pertama ini menunjukkan bahwa secara substantif, Islam Nusantara merupakan paham Islam dan implementasinya yang berlangsung di kawasan Nusantara sebagai akibat sintesis antara wahyu dan budaya lokal, sehingga memiliki kandungan nuansa kearifan lokal (local wisdom). Sedangkan definisi kedua merupakan Islam yang berkarakter Indonesia, tetapi juga sebagai hasil dari sintesis antara nilai-nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal. Hanya saja, wilayah geraknya dibatasi pada wilayah Indonesia, sehingga lebih sempit daripada wilayah gerak dalam pengertian yang pertama yang menyebut bumi Nusantara. Sayangnya, dalam sumber-sumber tersebut bumi Nusantara tidak dijelaskan wilayah jangkauannya. 

    Selanjutnya, terdapat pemaknaan Islam Nusantara yang ditekankan sebagai metodologi dakwah yang berbeda dengan pemaknaan yang pertama maupun kedua. “Islam Nusantara adalah metodologi dakwah untuk memahamkan dan menerapkan universalitas (syumuliyah) ajaran Islam sesuai prinsip-prinsip Ahlussunnah waljama‟ah, dalam suatu model yang telah mengalami proses persentuhan dengan tradisi baik („urf shahih) di Nusantara, dalam hal ini wilayah Indonesia, atau merupakan tradisi tidak baik („urf fasid) namun sedang dan/atau telah mengalami proses dakwah amputasi, asimilasi, atau minimalisasi, sehingga tidak bertentangan dengan diktum-diktum syari‟ah” (Anam, t.t: 22) 

b. Karakteristik Islam Nusantara 

    Islam Nusantara ini memiliki karakteristik-karakteristik yang khas sehingga membedakan dengan karakteristik-karakteristik Islam kawasan lainnya, khususnya Islam Timur Tengah yang banyak mempengaruhi Islam di berbagai belahan bumi ini. Wilayah Nusantara memiliki sejumlah keunikan yang berbeda dengan keunikan di negeri-negeri lain, mulai keunikan geografis, sosial politik dan tradisi peradaban (Ghozali dalam Sahal & Aziz, 2015: 115). Keunikan keunikan ini menjadi pertimbangan para ulama ketika menjalankan Islam di Nusantara. Akhirnya, keunikan-keunikan ini membentuk warna Islam Nusantara yang berbeda dengan warna Islam di Timur Tengah. 

    Islam Nusantara merupakan Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah bangsa dan negara (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015; 240). Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya dapat diterima masyarakat Nusantara, tetapi juga layak mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan li al-„alamin. Pesan rahmatan li al-„alamin ini menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015: 242). Islam yang merangkul bukan memukul; Islam yang membina, bukan menghina; Islam yang memakai hati, bukan memaki-maki; Islam yang mengajak tobat, bukan menghujat; dan Islam yang memberi pemahaman, bukan memaksakan. 

C. KE-IPNU IPPNU-AN II 

1. Peristiwa – Peristiswa dan Keputusan penting dari kongres ke kongres 

a. IPNU 

    IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) berdiri sejak tahun 1954. Jadi, organisasi ini sudah 66 tahun eksis mewarnai pelajar dan santri di negeri ini. Namun , apakah kader IPNU sudah cukup banyak yang tahu tentang proses perjalanan dan perjuangan dalam rentang waktu sepanjang itu? Mari kita kilas sejarah IPNU sejak berdirinya hingga sekarang. 

Berikut catatan special tentang perjalanan IPNU sebagai berikut : 

1) Tanggal 24 Pebruari 1954/20 Jumadil Akhir 1373 H di Semarang berdirilah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pendirian IPNU dimotori oleh M Sufjan Cholil (Jombang), H. Mustahal (Solo), dan Abdul Ghoni Farida (Semarang). Selanjutnya di sebut Assabiqunal Awwalun (Sebutan Untuk 3 Perintis IPNU). Perintisan IPNU ini dilakukan pada Konbes LP Ma'arif NU. 

2) Pada Tanggal 30 April - 1 Mei 1954 di Solo Mengadakan Konferensi Segi Lima di Solo yang diikuti oleh Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan Kediri. Menghasilkan keputusan penting yakni organisasi berasaskan ahlussunah wal jamaah dan menunjuk Moch. Tholhah Mansoer sebagai ketua IPNU yang pertama serta menentukan Yogyakarta sebagai kantor pusat. Selain itu, juga memutuskan anggota IPNU hanya putra. 

3) Pada tanggal 9 - 14 September 1954 di Surabaya, IPNU mendapat pengakuan resmi sebagai bagian dari NU di Muktamar ke 20 NU di Surabaya. Delegasi PP IPNU terdiri dari M. Sofyan Kholil, M. Najib Abdulwahab, Abdulgani Farida M. Uda, dan M. Asro yang dipimpin sendiri oleh ketua PP IPNU M. Tolchah Mansoer. Sidang gabungan antara Muslimat - Fatayat memutuskan bahwa harus ada wadah serupa IPNU untuk pelajar dan santri putri. Inilah cikal bakal dari berdirinya IPPNU. 

4) Pada tanggal 28 Februari - 5 Maret 1955 di Malang, Jawa Timur IPNU mengadakan Muktamar Pertama IPNU dan IPNU telah meluas hingga Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta. Muktamar mengikutkan lebih dari 30 cabang dan undangan dari beberapa pesantren. Dihadiri oleh Presiden RI Ir. Soekarno, Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin, Menteri Agama RI KH. Masykur. Sedangkan dari jajaran PBNU hadir Rois 'Aam NU KH Abdul wahab Chasbullah, Ketua Umum Partai NU yaitu KH Dahlan, Ketua Umum PB Maarif NU yaitu KH Syukri Ghozali. 

5) Pada tanggal 1 - 4 Januari 1957 di Pekalongan mengadakan Muktamar II IPNU. Pada muktamar kali ini diadakan berbagai lomba, seperti sepakbola, bulutangksi, catur dan lainnya. Menghasilkan beberapa keputusan dan Tolhah Mansur kembali terpilih sebagai ketua umum. 

6) Pada tanggal 27 - 31 Desember 1958 di Cirebon - Muktamar III IPNU - Semangat kritisme peserta Muktamar mulai muncul dengan banyaknya pesan yang muncul. POR dilaksanakan secara resmi dengan peserta dari 57 cabang. Moch. Tolhah Mansur terpilih kembali sebagai ketua umum. Mendirikan Departemen Perguruan Tinggi dan yang tidak kalah penting adalah, amanat Muktamar tentang penyusunan Mukadimah AD / ART IPNU. 

7) Pada tanggal 16 Oktober 1959 - Mukadimah AD / ART IPNU berhasil disusun. 

8) Pada tanggal 11 - 14 Februari 1961 di Yogyakarta - Muktamar IV IPNU - Menghapus departemen perguruan tinggi karena sudah ada PMII. Istilah Muktamar di ganti menjadi Kongres. Perubahan istilah AD / ART (Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga) menjadi PD / PRT (Peraturan Dasar / Peraturan Rumah Tangga). Ismail Makky dari Yogyakarta terpilih sebagai ketua umum. 

9) Pad tanggal 25 - 31 Oktober 1964 di Pekalongan - Konferensi Besar Pekalongan - Dikenal dengan Doktrin Pekalongan yang merupakan ekspresi ekspresi kesadaran IPNU untuk terus berusaha melakukan langkah kongkrit aktualisasi perjuangan menuju cita cita Nahdlatul Ulama. Menegaskan kepemihakan IPNU kepada Pancasila, mengalahkan manifesto komunis maupun Proklamasi Kemerdekaan. Dari Doktrin pekalongan inilah yang kemudian mendorong berdirinya Corp Brigade Pembangunan (CBP) pada tahun 1965 

10) Pada bulan Juli 1965 di Pekalongan - Kongres V IPNU - Asnawi Latif terpilih sebagai ketua umum. Ikrar organisasi bahwa nama 'Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama' tidak akan dirubah selamanya. Hal ini untuk meneguhkan 'NU' pada organisasi IPNU karena gagasannya untuk menghilangkan akronim 'NU' pada 'IPNU'. Kongres ini juga memberikan rekomendasi KH. Hasyim Asy'ari untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional. 

11) Pada tanggal 20 - 24 Agustus 1966 di Surabaya - Kongres VI IPNU - Deklarasi IPNU sebagai banom Partai Nahdlatul Ulama, artinya sejak saat itu IPNU berposisi sejajar dengan GP Ansor, Muslimat dan Fatayat. Keputusan lainnya adalah memindahkan kantor pusat IPNU dari Yogyakarta ke Jakarta. 

12) Pada tanggal 20- 25 Agustus 1970 di Semarang - Kongres VII IPNU - Selain berbagai keputusan internal kongres juga memberikan respon politik terhadap Orde Baru yang menunjukkan watak otoriter yang birokratisinya kongres ini juga mengkritisi militerisme desakan anggaran pendidikan sampai 75% dalam APBN 

13) Pada tanggal 26-30 Desember 1976 di Jakarta - Kongres VIII IPNU - Pelaksanaan kongres terlambat sebagai implikasi penjinakan yang dilakukan oleh orde baru, selain itu penyempurnaan PD / PRT dan perumusan program kerja pada kongres ini juga dibangun aliansi strategis antar pelajar dan Tosari Wijaya terpilih sebagai ketua umum. 

14) Pad tanggal 20-25 Januari 1981 di Cirebon - Kongres IX IPNU - Kongres ini menghasilkan berbagai keputusan penting pola program organisasi, penguatan pelatihan, pengesahan baru pegkaderan dan sebagainya. Ahsin Zaidi terpilih sebagai ketua umum. 

15) Pada tanggal 29-31 Januari 1988 di Jombang - Kongres X IPNU - Kongres ini catatan sejarah penting yaitu mengubah singkatan 'Pelajar' pada akronim 'P' menjadi Ikatan 'Putra' Nahdlatul Ulama, langkah ini diambil sebagai upaya untuk menyesuaikan UU no.8 1985 tentang keormasan, melalui undang undang itu pemerintah melarang keberadaan organisasi pelajar kecuali OSIS. Zainut Tauhid Sa'ady terpilih sebagai ketua umum. 

16) Pada tanggal 23 - 27 Desember 1991 di Lasem, Rembang - Kongres XI IPNU - Zainut Tauhid Sa'ady terpilih kembali sebagai ketua umum. Penegasan pelaksanaan kegiatan IPNU di tingkat nasional tanpa keterikatan dengan IPPNU. 

17) Pada tanggal 25 - 30 Januari 1995 di Garut, Jawa Barat - Kongres XII IPNU - Hilmy Muhammadiyah terpilih sebagai ketua umum. Kebijakan yang dihasilkan: Bahwa IPNU sebagai organisasi kader bertekad mendukung kebijakan NU sebagai organisasi Induk dalam upaya pengembangan organisasi kedepan. 18) Pada tanggal 23 - 26 Maret 2000 di Maros, Makasar, Sulawesi selatan - Kongres XIII IPNU - Abdullah Azwar Anas terpilih sebagai ketua umum. 

Kebijakan yang dihasilkan: 

1. Mengembalikan IPNU pada visi kepelajaran, suatu tujuan awal pendiriannya; 

2. Menumbuh kembangkan IPNU pada basis perjuangan, yaitu sekolah dan pondok pesantren; 

3. Mengembalikan kelompok CBP sebagai kedisiplinan, kepanduan, dan kepencita-alaman. 

19) Pada tanggal 18 - 22 Juni 2003 di Sukolilo, Surabaya - Kongres XIV IPNU - Mujtahidur Ridho terpilih sebagai ketua umum. Kebijakan yang dihasilkan adalah : 

1. Perubahan nama dari IPNU (Ikatan Putra Nahdlatul Ulama ') menjadi IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama'); 

2. Penekanan pada visi kepelajaran tujuan awal berdirinya; 

3. Pengembangan Komisariat-Komisariat di Sekolah dan pondok pesantren dan perguruan tinggi. 

20) Pada tanggal 9-12 Juli 2006 di Jakarta - Kongres XV IPNU - Terpilih sebagai ketua umum Idy Muzayad. Keputusan - keputusan penting dalam kongres ini adalah upaya menghentikan masa transisi dari putra ke pelajar sebenarnya. Mengubah Citra diri IPNU menjadi Prinsip perjuangan IPNU (P2 IPNU). 

21) Pada tanggal 19-22 Juni 2009 di Brebes, Jawa Tengah) - Kongres XVI IPNU - Ahmad Syauqi terpilih sebagai ketua umum. Pada pasal yang ditambah dengan Anggota kehormatan, yaitu orang yang berjasa kepada organisasi. 

22) Pada tanggal 30 November - 4 Desember 2012 di Palembang - Kongres XVII IPNU - Khairul Anam Harisah terpilih sebagai ketua umum. 

23) Pada tanggal 4 - 8 Desember 2015 di Boyolali, Jawa Tengah - Kongres XVIII IPNU - Terpilih sebagai ketua umum Asep Irfan Mujahid . Sesuai amanat muktamar ke 33 NU, usia maksimal IPNU diturunkan dari 29 menjadi 27 tahun. Penguatan dan penyiapan PKPT (Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi).

b. IPPNU 

    Bermula dari perbincangan ringan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan Nahdliyat. Dalam keputusan ini di kalangan NU, Muslimat NU, Fatayat NU, GP. Ansor, IPNU dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada kongres I IPNU di Malang Jawa Timur, selanjutnya disepakati dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di kongres Malang di namakan IPNU putri. 

    Dalam suasana kongres ternyata keberadaan IPNU putri nampaknya masih diperdebatkan dengan secara alot. Semula direncanakan secara administratif hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Sementara hasil negosiasi dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusivitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut maka pada hari kedua kongres, peserta putri yang hanya diwakili lima daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang, dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan dua jajaran di pengurus teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yaitu PB Ma‟arif (saat itu dipimpin Bpk. KH. Syukri Ghozali) dan ketua PP Muslimat NU (Mahmudah Mawardi). 

Maka dari pembicaraan selama beberapa hari telah membuat keputusan sebagai berikut: 

1) Tanggal 28 Februari – 5 Maret 

2) Pembentukan Organisasi IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dengan IPNU 

3) Tanggal 2 maret 1995M/8 Rajab 1374 H dideklarasi8kan sebagai hari kelahiran IPNU putri 

4) Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretarisnya bernama Syamsiyah Mutholib. 

5) PP IPNU putri berkedudukan di Surakarta Jawa Tengah. 

6) Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma‟arif NU, kemudian PB Ma‟arif NU menyetujui dengan merubah nama IPNU putri menjadi IPPNU(Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) Perjalanan IPPNU dari masa ke masa. 

    Sejalan dengan adanya pelaksanaan konggres dari beberapa zaman ( Kemerdekaan, Orla, orba, Era reformasi) tentu mengalami berbagai peristiwa yang sangat menonjol dalam suatu keputusan kongres, dan dalam perjalanan IPPNU dari masa ke masa antara lain : 

1) Bulan Februari 1956 diadakan konferensi IPPNU di Surakarta 

2) Pada Tanggal 1 - 4 Januari 1957 pada muktamar IPNU di Pekalongan IPPNU ikut serta. Acara itu diisi dengan olahraga dan juga menghasilkan lambang IPNU-IPPNU 

3) Tanggal 14-17 Maret 1960 diadakan Konbes I di Yogyakarta, membicarakan tentang keorganisasian, kemahasiswaan, Pendidikan Islam serta bahasa Arab 

4) Tahun 1964 dilaksanakan Konbes III bersama IPNU di Pekalongan, dengan menghasilkan : 

4.1 Doktrin Pekalongan 

4.2 Mengusulkan agar KH. Hasyim Asy‟ari sebagai pahlawan 

4.3 Tanggal 30 Agustus 1966 dalam konggres di Surabaya IPNU dan IPPNU memohon pada PBNU untuk menerimanya sebagai badan otonom 

4.4 Tahun 1967 pada Muktamar NU di Bandung, resmilah IPPNU dimasukkan dalam PD/PRT NU sebagai badan otonom sampai sekarang 

4.5 Pada perkembangan berikutnya nampak pemerintah juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan dunia akademik terkontaminasi dengan unsur politik manapun, sehingga diberlakukan UU No. 8 tahun 1985 tentang keormasan khusus untuk organisasi ekstra pelajar adalah OSIS, selama itu IPPNU mengalami stagnasi pengkaderan dan PP didominasi oleh para aktivis yang usianya sudah melebihi batas. Maka pada konggres IX IPPNU di jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjanganya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama telah berubah menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama. 

4.6 Bulan Oktober 1990 pada Konbes IPPNU di lampung, menghasdilkan citra diri dan memantapkan PPOA IPPNU. 

4.7 Pada konggres X IPPNU tahun 1991 di Ponpes Al Wahdah lasem jawa tengah, telah menguatkan independensi IPPNU dan IPNU yang merupakan organisasi terpisah. 

4.8 Tanggal 10-14 juli 1996 di pesantren Al Musyaddidah garut Jabar mengadakan konggres XI IPPNU, yang menekankan usia kepemudaan di tubuh IPNU supaya sejajar dengan organisasi pemuda yang lain. 

4.9 Konbes bulan september 1998 di Jakarta, menghasilkan rekomendasi yang samgat menonjol di era reformasi yaitu bahwa IPPNU menyambut baik pendirian PKB yang tidak menggumakan nama NU 

4.10 Tanggal 22-25 Maret 2000, pelaksanaan konggres XII IPPNU di Makassar Ujung Pandang, telah mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikanke basis kepelajaran dan wacana Gender. 

4.11 Tanggal 18 –23 Juni 2003 kongres XIII IPPNU di asrama haji sukolilo Surabaya mengembalikan IPPNU kepada Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama 

    Tokoh–tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU adalah : 

1. Rekanita Umroh Mahfudzoh ( Gresik Jatim. 1955 – 1956 ) 

2. Rekanita Basyiroh Soimuri ( Solo Jateng. 1956 – 1968 ) 

3. Rekanita Basyiroh Soimuri ( Solo Jateng. 1968 – 1960 ) 

4. Rekanita Mahmudah Nachrowi ( Malang Jatim. 1960 – 1963 ) 5

. Rekanita Farida Mawardi ( Surakarta. 1963 – 1966 ) 

6. Rekanita Mahsanah Asnawi ( Rembang. 1966 – 1970 ) 

7. Rekanita Ratu Ida Mawaddah ( Serang Banten. 1970 – 1976 ) 

8. Rekanita Misnar ma‟ruf ( Padang Sumbar. 1976 – 1981 ) 

9. Rekanita Titin Asiyah ( Jakarta. 1981 – 1988 ) 

10. Rekanita Ulfah Masfufah ( Jatim 1988 – 1991 ; 1991 – 1996 ) 

11. Rekanita Safira Mahrusah (Yogyakarta. 1996 – 2000 ) 

12. Rekanita Ratu Dian Hatifah ( Banten. 2000 – 2003 ) 

13. Rekanita Siti Soraya Devi ( Cirebon. 2003 – 2006 ) 

14. Rekanita Wafa Patria Ummah ( Jatim. 2006 – 2009 ) 

15. Rekanita Margaret Aliyatul Maimunah (2009 – 2012) 

16. Rekanita Farida farichah (2012 – 2015) 

17. Rekanita Puti Hasni (2015 – 2018) 

18. Rekanita Nurul Hidayatul Umah (2018 – sekarang). 5 5 

2. Fungsi dan Tujuan Organisasi 

a. Fungsi IPNU 

1) Wadah perjuangan pelajar Nahdlatul Ulama dalam pendidikan dan kepelajaran. 

2) Wadah pengkaderan pelajar Nahdlatul Ulama untuk mempersiapkan kaderkader bangsa dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama 

3) Wadah penguatan pelajar Nahdlatul Ulama dalam melaksanakan dan mengembangkan Islam ahlussunah wal-Jamaah untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai nahdliyah 

b. Tujuan IPNU 

    Tujuan IPNU adalah terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari‟at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama‟ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka IPNU melaksanakan usaha-usaha: 

1. Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi. 

2. Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa. 

3. Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat guna terwujudnya khaira ummah 

4. Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi. 

c. Tujuan IPPNU 

1) Sebagai bagian dari badan otonom Nahdlatul Ulama, IPPNU mempunyai tiga fungsi utama, yaitu: 

2) Sebagai wadah berhimpun pelajar dan santri putri NU untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai nahdliyin. 

3) Sebagai wadah komunikasi pelajar dan santri putri NU untuk menggalang ukhuwah Islamiyah dan Syiar Islam. 

4) Sebagai wadah kaderisasi pelajar dan santri putri NU untuk mempersiapkan Kaderisasi bangsa. 


3. Struktur Organisasi IPNU IPPNU 

a. Pimpinan tertinggi IPNU-IPPNU di ibu kota Negara disebut Pimpinan Pusat IPNU-IPPNU (PP IPNU-IPPNU) 

b. Pimpinan IPNU-IPPNU di provinsi disebut Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU (PW IPNU-IPPNU) 

c. Pimpinan IPNU-IPPNU di kabupaten/kota disebut Pimpinan Cabang IPNUIPPNU (PC IPNU-IPPNU) 

d. Pimpinan IPNU di kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang IPNU (PAC IPNU) 

e. Pimpinan IPNU di desa/kelurahan disebut Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU (PR IPNU-IPPNU) 

f. Pimpinan IPNU-IPPNU di Lembaga Pendidikan perguruan tinggi, pondok pesantren, SLTP/MTs, SLTA/MA dan yang sederajat disebut Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU (PK IPNU-IPPNU) 


4. Lambang IPNU dan Makna Logo 



· - Bulat yang berarti kontinyu/istiqomah 

· - Bertuliskan I.P.N.U tiga titik bermakna, Iman, Islam dan Ihsan 

· - Tulisan IPNU diapit tiga garis sejajar yang melambangkan rukun iman 

· - Sudut bintang lima melambangkan rukun islam 

· - Bintang melambangkan cita-cita yang tinggi 

· - Bintang besar di bawah tulisan IPNU melambangkan Nabi Muhammad SAW. 

· - Empat bintang sebelah kanan melambangkan khulafaurrosyidin 

· - Empat bintang sebelah kiri melambangkan empat madzhab 

· - Dua buah kitab artinya Alqur‟an dan Hadits 

· - Bulu melambangkan ilmu 

· - Dua bulu angsa bersilang melambangkan sintesa menuntut ilmu umum dan ilmu agama 

· - Warna hijau berarti kesuburan, warna kuning berarti kejayaan ( hikmah dan citacita yang tinggi) serta warna putih berarti suci 


5. Lambang IPPNU dan Makna Logo 



- Warna Dasar Hijau : Kesuburan, Kebesaran

- Warna Putih : Suci - Warna Kuning : Hikmah yang tinggi 

- Bentuk Segitiga : Istiqomah, kokoh dan iman, Islam, Ikhsan

 - Lima Titik Dalam Kata IPPNU : Rukun Islam 

- Dua Kuncup Bunga Melati : Perempuan dengan Kebersihan Fikiran dan Kesucian Hati 

- Dua Garis Putih mengapit Garis Kuning : Dua Kalimat Syahadat 

- Bintang : Ketinggian Cita-Cita 

- Sembilan Bintang : Lambang Keluarga NU, yaitu : 

Satu Bintang Besar di tengah : Nabi Muhammad SAW, 

Empat Bintang Kanan : Khulafaur Rasyidin, 

Empat Bintang Kiri : Madzhabb Empat (Hanafi, Maliki, Syafi‟i, Hambali) 

- Dua Kitab : Al-Qur‟an dan Hadist 

- Dua Bulu Angsa Bersilang : Sintesa antara Ilmu Agama dan Ilmu Umum 


MARS IPNU 

Wahai pelajar Indonesia 

Siapkanlah barisanmu 

Bertekad bulat bersatu 

di bawah kibaran panji IPNU 

Ayohai pelajar islam yang setia 

Kembangkanlah agamamu 

Dalam Negara Indonesia 

Tanah air yang kucinta 

Dengan berpedoman kita belajar, 

berjuang serta bertaqwa 

Kita bina watak nusa dan bangsa 

Tuk kejayaan masa depan 

Bersatu wahai pelajar islam jaya 

tunaikanlah kewajiban yang mulia 

Ayo maju…. pantang mundur…. 

Dengan rahmat tuhan kita perjuangkan 

Ayo maju…. Pantang mundur…. 

Pasti tercapai adil makmur 


MARS IPPNU 

Sirnalah gelap terbitlah terang 

Mentari timur sudah bercahya 

Ayunkan langkah pukul genderang 

S‟gala rintangan mundur semua 

Tiada laut sedalam iman 

Tiada gunung setinggi cita 

Sujud kepala kepada tuhan 

Tegak kepala lawan derita 

Di malam yang sepi di pagi yang terang 

Hatiku teguh bagimu ikatan 

Di malam yang hening di hati membakar 

Hatiku penuh bagimu pertiwi 

Mekar seribu bunga di taman 

Mekar cintaku pada ikatan 

Ilmu kucari amal kuberi 

Untuk agama bangsa negeri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Hari Raya Idul Fitri Tetap Dilestarikan